Sab. Agu 8th, 2020

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Kajian Ahad Pagi: Membahas Isu Radikalisme Bersama Prof. Suteki

2 min read

Nganjuk-Pagi yang cerah menambah keceriaan dan kehangatan suasana libur pekan. Aktivitas masyarakat mulai sedikit lengang tidak seperti hari-hari lain. Akan tetapi di sebuah masjid bercat biru berjubel jamaah yang hadir dalam kajian ahad pagi ini. Ya, di Masjid Syukron Abdulloh, Bukur Patianrowo Nganjuk, Jawa Timur ini menyelenggarakan kajian yang dihadiri oleh berbagai elemen, tokoh masyarakat serta polsek setempat dengan penceramah Prof. Dr. Suteki, S. H., M. Hum. (Minggu, 08 Desember 2019). Acara berlangsung dengan lancar dan jamaah yang hadir sangat antusias.

Tema yang diangkat dalam kajian tersebut yakni “Radikalisme Dimulai dari Masjidkah” memberikan stimulus bagi jamaah yang hadir. Memang, tema tersebut sedang hitz sekarang ini. Apalagi wacana adanya polisi masjid yang bertugas mengawasi masjid-masjid yang dianggap radikal serta dalam dakwahnya mengandung narasi kebencian (Hate Speech). Hal tersebut diulas apik oleh pak Prof dalam kajian ini.

Isu radikalisme yang dimunculkan di lingkungan masjid sungguh memberikan stigma negatif bagi masyarakat. Radikalisme yang syarat akan muatan politis tersebut sebagai senjata untuk menyerang umat Islam. “Radikalisme muatannya politis,” kata Prof. Suteki dalam ceramahnya. Beliau juga menambahkan, tindakan pemerintah dalam mengawasi kelompok yang dianggap radikal dan tak pancasilais bertentangan dengan isi UUD 1945. “Tindakan mengawasi kelompok umat Islam yang masih dianggap radikal bertentangan dengan isi UUD 1945 Pasal 28E ayat (3) yakni setiap orang berhak atas kebebasan berserikat,berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Beliau menambahkan “Dakwah bertujuan mengubah mindset dan perilaku umat menjadi lebih baik,” tegas beliau dalam ceramahnya. Dakwah yang sekadar saja tidak berarti apa-apa jika tidak bertujuan mengubah pemikiran dan sikap umat ke arah yang lebih baik. “Lalu apa gunanya dakwah jika di dalamnya tidak ada unsur untuk mengubah umat ke arah lebih baik,” tambah beliau. Jika pemerintah memutus rantai dakwah di tempat pembinaan umat yakni masjid, dengan momok radikalisme dan adanya polisi masjid maka dikhawatirkan menghalangi umat berjalan menuju arah perubahan yang lebih baik.

Beliau juga menyikapi adanya SKB (Surat Keputusan Bersama) di kalangan ASN. Pro kontra terbitnya SKB menjadi pembicaraan hitz di masyarakat terutama mereka yang menjabat sebagai ASN. Hal tersebut menjadi momok bagi ASN.

Terakhir beliau memberikan statement dengan mengomentari pendapat Samuel P. Huntington yakni pertumbuhan besar kaum muda yang berpendidikan menengah akan terus memperkuat kebangkitan peradaban Islam. “Agama adalah kunci jatuh bangunnya peradaban,” tegas beliau dalam ceramahnya.

Acara diakhiri dengan salam oleh MC kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan foto bersama. Suasana begitu santun dan damai sehingga menambah kenyamanan para jamaah dalam mengikuti acara tersebut. (MEF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.