Sab. Agu 8th, 2020

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Listrik Mahal, Bagaimana Islam Memandangnya?

2 min read

Oleh : Puspita Ningtiyas, SE

Di tengah pandemi Covid-19 masyarakat ramai-ramai mengeluhkan tagihan listrik.Kenaikan dirasakan mereka yang akan melakukan pembayaran pada bulan April 2020 di tengah aktivitas di rumah.

Banyak yang menduga di kalangan masyarakat jika PLN menaikkan tarif listrik secara diam-diam di tengah pandemi covid-19. Namun hal ini dibantah oleh EVP Corporate Communication and CSR PLN, I Made Suprateka. Suprateka mengatakan, tidak ada kenaikan tarif listrik, melainkan ada tambahan tagihan listrik di bulan April.”Pemakaian listrik di Maret meningkat, artinya ada kelebihan pemakaian yang belum dibayar karena PLN hanya menagih sesuai rata-rata pemakaian 3 bulan terakhir. Kelebihan ini kemudian diakumulasikan PLN ke tagihan pemakaian bulan April,” kata I Made dalam keterangan saat video konferensi pers, Rabu (6/5/2020). Singkatnya perubahan skema pencatatan inilah yang menjadikan tagihan listrik menjadi mahal berkali lipat dan memunculkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.

Harga listrik mahal jelas menjadi beban bagi masyarakat. Sebagai kebutuhan primer, suplai listrik yang murah menjadi hal yang krusial untuk dipenuhi. Dengan suplai energi listrik yang terjangkau, aktivitas ekonomi masyarakat bisa berkembang dan kehidupannya bisa dipermudah. Sayang sekali, kenyataan sekarang menunjukkan sebaliknya.

Islam memandang bahwa pemenuhan kebutuhan primer masyarakat adalah tanggungjawab negara. Mengingat, itu adalah bentuk kepengurusan negara pada rakyatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya seorang imam adalah penggembala dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Listrik adalah kebutuhan primer, karena listrik digunakan untuk menunjang hal-hal yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Atas dasar itu, negara wajib menyediakan listrik bagi masyarakat secara terjangkau. Pertanyaannya, bagaimana menjadikan harga listrik itu terjangkau?

Jawaban mendasarnya adalah pengelolaan SDA sesuai syariah. Pengelolaan SDA sesuai syariah meniscayakan negara mengelola sendiri SDA yang merupakan kategori kepemilikan umum (milkiyyah ‘ammah). Diantaranya adalah pertambangan, kehutanan dan maritim. Pengelolaan ini dilakukan dengan tetap memerhatikan aspek-aspek lingkungan, Sehingga, SDA migas dan batubara tidak menjadi tulang punggung APBN, mengingat dampak lingkungannya tidak bisa dikatakan ringan.

Pengelolaan SDA oleh negara juga meniscayakan negara tidak akan tergantung pada pinjaman pada lembaga keuangan ribawi apalagi pinjaman luar negeri untuk membiayai kebutuhan pembangunan infrastruktur pembangkit listrik.

Inilah yang harus diperbuat. Tidak ada solusi instan untuk menyelamatkan harga listrik dari meroket ke galaksi tetangga. Mengharapkan harga listrik bisa terselamatkan, sehingga terjangkau seluruh lapisan masyarakat secara berkelanjutan, membutuhkan penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan sistem Islam.

Tidak ada solusi lain. Kapitalisme adalah biang kerok dari tidak terjangkaunya harga listrik, maka tidak ada solusi yang bisa diharapkan darinya. Sementara Islam, sebagai sebuah din dan tatanan hidup komprehensif yang diturunkan oleh Pencipta manusia, selalu memiliki pemecahan masalah. Tinggal manusia yang mau menggalinya atau tidak.Allahu A’lam Bi Showab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.