Sel. Des 10th, 2019

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

GENERASI MILENIAL : JADI PEJUANG ISLAM ATAU PEJUANG MAKSIAT?

4 min read

Oleh : Syamsul Arifin

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai “Echo Boomers” karena adanya ‘booming’ (peningkatan besar) tingkat kelahiran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Untungnya di abad ke 20 tren menuju keluarga yang lebih kecil di negara-negara maju terus berkembang, sehingga dampak relatif dari “baby boom echo” umumnya tidak sebesar dari masa ledakan populasi pasca Perang Dunia II (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Milenial). Mungkin diantara kita termasuk generasi milenial, lalu apa yang akan kita lakukan sebagai generasi milenial ini? Apakah kita jadi anak gaul? Apakah kita akan membentuk gank motor? Tawuran? free seks? Mabuk – mabukan? Pacaran? Balapan? Tato – an? Atau jadi pejuang Islam? Tentu jawabannya ada pada diri kita masing – masing. Sebelum anda menjawab pertanyaan diatas ada baiknya simak baik – baik dulu bagaimana sejarah remaja gererasi Islam pada masa lalu, sebagai referensi anda untuk menentukan pilihan apakah jadi pejuang Islam atau pejuang yang lainnya. Misalnya, remaja pejuang pada masa Rasulullah SAW. “Ketika Ja’far bin Abu Thalib diutus menemui Raja Najasy dari Habsyah, umur beliau baru 20 tahun. Sama seperti saudaranya, Ali bin Abu Thalib, menjadi salah seorang pahlawan perang Badar pada usia muda, sekitar 25 tahun.

Dari kalangan muslimah tercatat Aisyah binti Abubakar, dalam usia yang belia beliau bersama-sama kaum muslimin, berjuang dalam perang Uhud. Demkian hal puteri Rasulullah, Fatimah, yang sedari kecil turut merasakan pahit getirnya perjuangan, dalam menegakkan keadilan bersama ayahnya.

Ada lagi Mush’ab bin Umair yang diutus Rasulullah untuk berdakwah ke kota Madinah di usia 24 tahun. Dakwah yang beliau lakukan sangat berhasil, dan menjadi jalan bagi Rasulullah untuk Hijrah (https://kanzunqalam.com/2010/05/21/remaja-generasi-sahabat/amp/). Kisah lain yang tidak kalah menariknya misalnya kisah tentang pemuda belia yang masih unyu unyu bersikukuh tetap ingin ikut berperang bersama Rasulullah SAW. “Mungkin sebagian diantara kita sudah sangat sering membaca kisah-kisah pejuang besar, Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thariq bin Ziyad, dan lain-lain. Kini kita sekilas melihat pejuang kecil yang memiliki ruhul jihad yag tinggi, yang sangat menakjubkan para orang tua akan keberanian dan kesungguhannya dalam membela dienul Islam yakni Umair bin Abi Waqqash. Ketika perang besar mulai yaitu perang badar, perang pertama kaum muslimin jalani setelah mereka hijrah ke Madinah. Dalam perang ini kaum muslimin berniat mencegat rombongan dagang Quraisy yang tengah kembali dari negeri Syam menuju kota Mekkah. Sebelum berangkat berperang, Rasulullah pun memeriksa persiapan pasukannya. Beliau memeriksa apakah diantara pasukannya terdapat orang yang sangat tua atau terlalu muda. Mereka yang sudah terlalu tua atau terlalu muda tidak akan diikutsertakan dalam perang, sebab mereka dianggap tidak efekatif dan terlalu membebani diri.

Ketika melihat Rasulullah sedang melakukan pemeriksaan, Umair bin Abi Waqqash saat itu masih berusia remaja bersembunyi di barisan belakang agar tidak ketahuan oleh Rasulullah. Dia takut tidak diizinkan ikut berperang dan malah disuruh pulang ke rumahnya. Melihat hal itu Saad bin Abi Waqqash, saudara tuanya memanggil, “Kenapa engkau berlari-lari begitu, wahai Umair takut Rasulullah “Aku takut Rasulullah melihatku”, jawab Umair. “Kenapa kalau beliau melihatmu?” “Nanti dia akan menganggapku masih kecil, dan menolakku untuk berjihad,” jawab Umair lagi. “Kalau begitu, kalau beliau tidak mengizinkanmu ikut berjihad, pulang sajalah! Saranku. “Tidak”, jawab Umair dengan penuh kesal. “Aku tetap ingin berjihad, siapa tahu aku dapat mati syahid”, sambungnya lagi.

Rasulullah memang seorang pemimpin yang teliti. Beliau melihat Umair yang sedang bersembunyi dan memanggilnya. Rasulullah mengatakan bahwa dia tidak diizinkan ikut berperang saat itu karena masih terlalu kecil. Umair bin Abi Waqqash pun menangis tersedu-sedu. Dia tidak boleh ikut berjuang dan diperitahkan pulang segera. Wajah Umair terlihat sangat sedih karena tidak dapat membela Islam. Sambil terus menangis, Umair tetap meminta kepada Rasulullah agar dia diizinkan ikut. Akhirnya hati Rasulullah luluh juga. Beliau tidak tega melihat ketulusan dan kesungguhan anak itu. Umair pun akhirnya diizinkan untuk berangkat berperang ke medan Badar.

Kemudian Sa’ad bin Abi Waqqash berkata lagi, “Jadi akulah yang membawakan pedangnya, karena tidak kuat membawa pedang itu.”

Kemudian Pasukan Muslimin pun bergerak ke medan perang Badar dengan gagahnya. Mereka awalnya tidak menyadari bahwa musuh yang dihadapi jumlahnya sangat besar dan dilengkapi senjata yang lengkap. Namun Allah berkehendak lain, pasukan muslim yang jumlahnya kecil itu ternyata mampu mengalahkan pasukan musuh yang besarnya berlipat-lipat. Puluhan kaum kafir Quraisy tewas dan tertahan, sisanya pergi melarikan diri. Sementara belasan kaum muslimin gugur menemui kesyahidannya, di mana salah satunya adalah Umair bin Abi Waqqash, sahabat belia yang pemberani” (https://www.panjimas.com/kajian/2016/03/01/kisah-mujahid-cilik-di-perang-badar/).

Saudaraku, sudah cukupkah kisah diatas untuk menjadi bahan renungan anda wahai para generasi milenial? Kisah diatas betapa dahsyatnya perjuangan mereka untuk Islam bahkan mereka yang masih unyu – unyu bersikukuh untuk ikut bela Islam, bukan sibuk main – mainan, dan lain sebagainya. Mereka lebih suka syahid membela Islam daripada hanya main – mainan yang tidak ada manfaatnya. Mereka jafikan masa remajanya dengan penuh makna dan barokah, jiwa dan raga mereka pertaruhkan untuk kemuliaan Islam. Semangat menyala – nyala untuk selalu berada di barisan para pejuang Islam. Saudaraku, mari tentukan pilihan anda untuk bersama para pejuang Islam di abad ini bukan malah jadi pejuang kemaksiatan. Karena kita semua akan kembali kepada sang Khaliq. Maka jangan sampai hidup kita yang sebentar terbuang dengan sia – sia hanya untuk main – main apalagi jadi gembong kemaksiatan. Na’udzu billahi min dzalik. Hadirilah majlis – majlis ta’lim, perhalqohan, tabligh akbar, jafilah remaja Madjid jangan jafi remaja perusak Masjid. Mari kita berjuang untuk melanjutkan kehidupan Islam agar hidup kita tenang dan akhir hayat kita indah yakni husnul khatimah. Siap jadi pejuang Islam?. Salam perjuangan! Allahu Akbar.

3 thoughts on “GENERASI MILENIAL : JADI PEJUANG ISLAM ATAU PEJUANG MAKSIAT?

  1. generasi milenial telah teracuni dengan pemikiran sekuler, aktivitas mereka bersifat matrialistis dan individualistis, menjadi kewajiban setiap mukmin utk merubah kepribadian gernerasi milenial, pemahaman Islam yang kaffah harus di dudukung untuk menangkis pemahaman Islam yang moderat dan liberal sebab pemahaman tsb cenderung sangat potensial menjad pintu pintu masuk sekularisme generasi milenial tsb. hadirnya kelompok dakwah yang menyampaikan pemahaman dan pemikiran Islam yang kaffah harus didukung segenap kaum muslimin. Trimakasih ustadz atas ulasan dan penjabaran nya semoga semakin membuka wawasan pemerhati masalah masalah yang ada di kalangan generasi muda tersebut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.