Sen. Mei 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Benarkah Perempuan dan Islam Menjadi Korban Terorisme?

3 min read

Oleh : Finta K

Setelah peristiwa bom di depan gereja katedral Makassar (Kompas, 28/03/2021). Terjadi penyerangan di Mabes Polri, identitas terduga teroris yang tewas tertembak adalah seorang wanita. Berdasarkan informasi yang diperoleh, perempuan tersebut diketahui bernama Zakiah Aini, kelahiran Jakarta 14 September 1995 (Sindonews, 31/3/2021).

Dari serangkaian aksi terorisme tersebut ternyata berdampak munculnya stigma negatif terhadap ajaran Islam dan perempuan. Pasalnya, dari kedua aksi itu mempunyai kesamaan wasiat yang tertulis pada surat yang berpesan kepada keluarganya untuk menjauhi riba, tidak meninggalkan salat dan menganjurkan untuk mengikuti kajian. Mengenai pelakunya menjadi opini bahwa ada keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme.

Setelah dua kejadian terkait aksi terorisme yang tidak lama berselang, disusul maraknya penggeledahan oleh aparat terhadap orang yang terduga teroris di berbagai daerah. Desakan program moderasi juga semakin deras. Seperti Dr. Musdah Mulia dalam diskusi daring 36 tahun Kalyanamitra: Gerakan Feminis dan Isu Keberagaman di Indonesia, (31/03/2021) menyampaikan:

“Ketika kita melakukan penelitian tentang radikalisme dan aksi-aksi teroris di Indonesia, perempuan sudah menjadi agensi yang luar biasa. Agenda perempuan dalam dunia terorisme itu menarik. Semakin kuat. Jadi, sekarang bagaimana mengubah agensi perempuan dalam upaya membangun pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai perdamaian dan nilai toleransi,” ujar Dr. Musdah Mulia (VOAIndonesia.com, 01/04/2021).

Begitu pula dengan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Eny Retno Yaqut meminta anggota DWP Kemenag untuk menjadi agen moderasi beragama.

“Di masa pandemi ini, kegiatan ibu-ibu di tengah masyarakat berkurang. Mereka lebih banyak berada di dalam rumah. Sehingga mereka tidak bisa memantau tetangga,” kata Eny.

Akibat kurangnya pertemuan antar warga ini, paham radikalisme di tengah-tengah masyarakat bisa lebih leluasa bergerak. “Karena kurang pantauan dari warga, mereka bisa lebih leluasa mengembangkan pemahaman ekstrim,” ujarnya (Kemenag.go.id, 12/04/2021)

Ternyata langkah untuk menanggulangi terorisme ini justru seirama dengan program barat yang digawangi Amerika Serikat sejak terjadinya peristiwa serangan 11 September 2001. Amerika telah berhasil memberikan stempel bahwa teroris mengarah pada ciri khas muslim, membuat definisi muslim radikal, extrimis, moderat, sekuler dan tradisional melalui lembaga think tanknya.

Selain itu mereka gencar mengkampanyekan program semacam deradikalisasi maupun moderasi beragama untuk menghadang kebangkitan Islam yang sebenarnya dianggap menjadi penghadang ideologi kapitalisme, yang pada faktanya telah menjadi senjata untuk menghagemoni suatu negeri dan mengeruk sumber daya alamnya.

Di Indonesia sudah diterapkan arahan definisi terorisme ini bisa kita lihat labelisasinya juga diarahkan pada muslim. Walaupun aksi terorisme yang telah dilakukan KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) di Papua sudah melebihi batas, seperti membunuh, menculik, merampas dan menyandera. Mereka hanya dilabeli kelompok kriminal atau pengganggu.

ironisnya lagi tidak ada upaya pemerintah untuk meluruskan pada masyarakat yang mayoritas Islam, bahwa memang di dalam ajaran Islam sudah ditentukan apa saja yang dilarang dan apa yang diperintahkan. Maka ajaran Islam yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kasus terorisme dikhawatirkan bisa membuat masyarakat yang sekarang ini pemikirannya sudah tereduksi dengan sekularisme menganggap itu adalah doktrin yang dianut dan dijajakan para teroris. Dengan kata lain Islamphobia menjadi semakin berkembang. Selain itu perempuan muslim sekarang ini menjadi tertuduh sebagai teroris dan perlu adanya pengawasan melalui berbagai program yang lahir dari moderasi beragama. Hal ini menunjukkan perempuan muslim juga menjadi korban dari aksi terorisme.

Karena bisa berdampak stigma negatif teroris perempuan memiliki ciri khas militan. Sehingga bagi muslimah yang memang menyadari kerusakan multi dimensi yang disebabkan ideologi kapitalisme baik dari sisi pemerintahan, ekonomi, pergaulan, sistem pelayanan kesehatan maupun pendidikan akan berusaha memberi solusi bagaimana Islam mampu menyelesaikan problematika tersebut. Sesuai dengan pemahaman mengenai syariat Islam, yang memang membawa rahmat bagi seluruh alam dan tidak mengajarkan berbuat kerusakan, semacam aksi terorisme yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal Ini bisa membuat muslimah yang fokus mendidik kepribadian Islam dan memperjuangkan Islam secara menyeluruh bisa rentan tertuduh.

Untuk itu diperlukan kedewasaan pemerintah dalam pengambilan sikap dan kebijakan. Tidak tunduk pada arahan asing yang memang berusaha menjaga ideologi kapitalisme yang telah mencengkeram negeri ini melalui pemahaman asing seperti feminisme, liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan selainnya. Pemerintah juga harus segera menyelesaikan pemberantasan kasus terorisme baik yang melekat labelisasi Islam maupun seperti yang dilakukan KKB. Agar ajaran Islam maupun perempuan tidak menjadi korban fitnah, terciptanya ketentraman, kedamaian dan stabilitas di dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.