Sab. Apr 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

BOM BUNUH DIRI = JALAN PINTAS MENUJU SURGA?

7 min read

(Ekasari Fahrani, Aktivis Muslimah dan Pemerhati Politik)

            Isu terorisme seolah tak sepi pemberitaan, terkhusus Indonesia. Berbagai fitnah yang ditujukan pada Islam selalu datang dengan berbagai motif. Aksi bom bunuh diri yang dilakukan di depan halaman gereja Katedral Makassar adalah tindakan terkutuk yang bertentangan dengan syariat Islam. Aksi tersebut terjadi pada Ahad, (28/3/2021) pagi sekitar pukul 10.30 WITA, mengakibatkan dua orang yang diduga pelaku tewas dan 20 orang luka-luka.

            Dilansir dari Liputan6.com, (28/3/2021) Ketua Relawan Jokowi Mania (JoMan), Immanuel Ebenezer menegaskan, serangan teror ke gereja merupakan aksi teror yang sangat brutal. Terlebih, gereja adalah tempat jemaat kristiani beribadah yang jelas banyak masyarakat sipil di dalamnya. Dia pun mendesak kepada aparat berwenang mengusut dalang teror terkait. Mulai dari kelompok radikalnya apakah bersumber dari kelompok lama atau baru yang coba mengguncang stabilitas politik dan keamanan. “Tangkap dan buru pelakunya. Siapapun otaknya harus dibekuk,” tegasnya.

            Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan agar tidak mengaitkan tindakan bom tersebut terhubung dengan agama dan golongan umat beragama tertentu. Bisa jadi aksi bom Makassar ini menjadi adu domba kepada rakyat Indonesia. “Boleh jadi tindakan bom tersebut merupakan bentuk adu domba, memancing di air keruh, dan wujud dari perbuatan teror yang tidak bertemali dengan aspek keagamaan,” tegas Haedar. (liputan6.com)

            Ramai-ramai berbagai kalangan mengutuk perbuatan tersebut. Sore harinya, Presiden Jokowi langsung memberikan pernyataan resminya dengan mengatakan semua ajaran agama menolak terorisme. Malam harinya, Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo telah berhasil mengungkap identitas pelaku bom bunuh diri yaitu pasangan suami istri milenial yang baru menikah. Mereka disebut tergabung dalam Jemaah Ansharut Daulah (JAD). (cnnindonesia.com, 28/3/2021)

            Cepatnya penanganan kasus tersebut patut diapresiasi. Belum berganti hari, identitas pelaku beserta jaringannya terungkap dengan sejumlah bukti. Namun demikian, ada hal yang mengusik masyarakat perihal kasus lain yang lambat dan sulit terungkap. Seperti kasus KM50 dan penangkapan koruptor Harun Masiku, hingga kini masih belum terselesaikan.

GEREJA DI BOM AJARAN ISLAM KEMBALI TERTUDUH

            Peneliti terorisme mengatakan banyak anak muda yang dijaring dalam kelompok teroris melalui media internet dan diiming-imingi jalan pintas ke surga jika melakukan bom bunuh diri. Hal itu dikatakan menyusul peristiwa pengeboman di sebuah gereja Katolik di Makassar, Sulawesi Selatan, yang pelakunya merupakan seorang pemuda kelahiran tahun 1995. Pemerintah diminta lebih gencar mengawasi perekrutan teroris melalui internet dan membenahi program deradikalisasi mantan teroris, yang hingga kini disebut masih kerap melakukan perekrutan anggota baru, salah satunya melalui media sosial. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan telah menggandeng berbagai pihak untuk terus mengatasi konten-konten radikal di media sosial.

            Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan bahwa pelaku pengeboman bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, yang berinisal L adalah seorang pemuda kelahiran 1995. Ia dan istrinya berusaha memasuki gereja sebelum meledakkan diri, mengakibatkan 20 orang di wilayah gereja itu luka-luka. Boy Rafli menyebut anak-anak muda adalah target khas dari kelompok teroris. “Jadi inisial L ini dengan istrinya adalah termasuk kalangan milenial yang sudah menjadi ciri khas korban dari propaganda jaringan terorisme,” kata Boy sebagaimana dilaporkan wartawan Darul Amri di Makassar untuk BBC News Indonesia.

            Menanggapi itu, peneliti terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar, mengatakan sejak empat tahun belakangan, kelompok terorisme JAD kerap mengincar anak-anak muda. “Yang direkrut kebanyakan anak muda, milenial baru, yang dianggap masih bersih tanpa ada pengaruh NU atau Muhamadiyah. Mereka-mereka yang cenderung kosong secara keagamaan, kering secara spiritual. Kebanyakan mereka (perekrut) menggunakan media sosial, mereka membahas tentang jihad dan makna mati syahid supaya bisa masuk surga. Mereka tawarkan shortcut to heaven, jalan pintas ke surga,” kata Al Chaidar.

TERORISME HANYA ALAT PERANG TERHADAP ISLAM

            Melihat fakta terakhir ini, terorisme seringkali dikaitkan dengan pakaian sebagai identitas kemusliman seseorang. Misalnya wanita bercadar dan lelaki bercelana cingkrang atau berjenggot seringkali diidentikkan dengan teroris. Jelas ini adalah pandangan yang keliru dan tidak berdasar. Sebab hal-hal tersebut adalah bagian dari ajaran Islam. Adapun yang memelintir fakta tentang pakaian tersebut karena ketidakpahaman secara menyeluruh tentang ajaran Islam. Lebih berbahaya lagi bila dia mengidap islamphobia.

            Pemahaman yang dangkal terhadap ayat-ayat Al-Quran telah melahirkan tuduhan keji terhadap firman Allah Swt. mengenai jihad fi sabilillah dan juga Khilafah sebagai satu sistem pemerintahan yang menerapkan Islam secara kafah.

            John Richard Pilger, Seorang jurnalis independen Australia dan pengarang buku terkenal, mengungkapkan; “sebenarnya tidak ada perang melawan terorisme yang ada hanyalah terorisme digunakan sebagai alat perang, dan Islam yang paling banyak korban.” Terorisme dipropagandakan sebagai hilir dari pemahaman agama yang radikal. berbagai program deradikalisasi pun terus diciptakan agar radikalisme (versi mereka) hilang. seperti dihilangkannya ajaran jihad dan khilafah dibuku-buku sekolah, sertifikasi da’i dan lain-lain.

            Untuk mendukung pemikiran Barat yang sekuler menjauhkan nilai agama dalam kehidupan, diserukanlah Islam moderat, yakni yang menyesuaikan dengan pemikiran-pemikiran Barat yang berasaskan sekuler. Padahal, demokrasi, HAM, atau liberalisme yang digaungkan Barat, sering kali berstandar ganda, yang diserukan demi memuluskan kepentingan Barat di dunia Islam. Toleransi seolah tak berlaku bagi umat muslim.  Puncaknya, radikalisme dianggap telah melahirkan pemahaman penyatuan agama dan politik yang dianggap berbahaya, melahirkan manusia berpikiran sempit, tidak mau menerima pendapat orang, semua karena hidupnya diikat doktrin agama yang (dianggap) tidak netral dan inklusif, bahkan dituding bisa menciptakan pemberontakan untuk menumbangkan kedaulatan NKRI.

            Sejak terjadinya tragedi WTC yang katanya diklaim dilakukan oleh jaringan Islam Al-Qaeda, Barat gencar menggulirkan narasi war on terorism. Didukung dengan pemberitaan media baik cetak maupun elektronik yang turut memberitakan narasi sesat ini, semakin lengkaplah Islam sebagai sasaran kebencian.

            Jika dikaitkan dengan Islam maka terorisme bukanlah bagian dari ajaran Islam. Sebab Allah SWT melarang satu nyawa pun yang sengaja dihilangkan. Apalagi dengan teror bom yang biadab mengenai warga sipil baik itu muslim maupun non muslim. Umat Islam dilarang melakukan lima hal bahkan di saat perang sekalipun. Lima hal itu adalah membunuh anak-anak, membunuh wanita, merusak rumah ibadah agama lain, membunuh rahib/pendeta, meracuni lingkungan. Maka benarlah firman Allah, SWT dalam Q.S Al-Anbiya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

 Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia (TQS. Al Anbiya: 107)

            Islam adalah agama yang sempurna mengatur hal sekecil apapun bahkan membunuh seekor semut saja dilarang terlebih lagi menghilangkan nyawa seseorang. Maka siapapun yang melakukan bom bunuh diri, bukanlah berdasarkan ajaran Islam. Walaupun mereka mengatasnamakan Islam. Bom bunuh diri bukanlah bagian dari jihad dan jihad bukanlah terorisme.

            Pemahaman yang dangkal terhadap ayat-ayat Al-Quran telah melahirkan tuduhan keji terhadap firman Allah Swt. mengenai jihad fi sabilillah dan juga Khilafah sebagai satu sistem pemerintahan yang menerapkan Islam secara kafah.

            Untuk mendukung pemikiran Barat yang sekuler menjauhkan nilai agama dalam kehidupan, diserukanlah Islam moderat, yakni yang menyesuaikan dengan pemikiran-pemikiran Barat yang berasaskan sekuler. Padahal, demokrasi, HAM, atau liberalisme yang digaungkan Barat, sering kali berstandar ganda, yang diserukan demi memuluskan kepentingan Barat di dunia Islam. Toleransi seolah tak berlaku bagi umat muslim.  Puncaknya, radikalisme dianggap telah melahirkan pemahaman penyatuan agama dan politik yang dianggap berbahaya, melahirkan manusia berpikiran sempit, tidak mau menerima pendapat orang, semua karena hidupnya diikat doktrin agama yang (dianggap) tidak netral dan inklusif, bahkan dituding bisa menciptakan pemberontakan untuk menumbangkan kedaulatan NKRI.

            Cendekiawan muslim Muhammad Ismail Yusanto mengatakan, sangat mungkin peristiwa bom Makassar ini dilakukan pihak tertentu untuk mendiskreditkan Islam dan perjuangannya. Peristiwa ini kemudian dijadikan dalih untuk melakukan tindakan lebih represif kepada aktivitas dakwah dan para pejuangnya, seolah semua itu terkait aksi pemboman tersebut. (mediaumat.news, 30/3/2021)

            Padahal, telah jelas dalam ajaran Islam, perbuatan tersebut terlarang dan merupakan dosa besar karena membunuh dirinya sendiri juga melukai banyak orang. Tindakan tersebut sangat keliru jika dianggap bagian dari ajaran Islam, apalagi sampai dikatakan jihad menjelang Ramadan. Oleh karenanya, tindakan tersebut pastilah dilakukan orang yang tak paham Islam. Sehingga, tidak boleh ada upaya mengaitkan tindakan tersebut dengan dakwah Islam dan upaya dalam mengembalikan Islam. Rasulullah saw. telah memberikan contoh kepada umat Islam bagaimana cara berdakwah dan berjihad. Berdakwah tidak boleh dengan kekerasan dan pemaksaan, apalagi sampai merusak tempat ibadah dan melukai jemaahnya. Semua itu jelas melanggar apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw., yakni berdakwah tanpa kekerasan.

PENTINGNYA MEMAHAMI AJARAN ISLAM DAN MENERAPKANNYA

            Tidak berkaitan ajaran Islam Kaffah  dengan Paham Terorisme. Tak layak pula seseorang yang memandang sesuatu berdasarkan hitam dan putih aturan Illahi kemudian disebut bibit teroris. Padahal ajaran Islam sejatinya tak mengenal kata abu-abu. Tak ada kompromi atau jalan tengah untuk toleransi meninggalkan syariat Allah. Sayangnya yang terjadi saat ini, kaum muslim dipaksa untuk setengah-setengah dalam menjalankan hukum Allah agar tak disebut radikal bahkan teroris. Arti islam kaffah diidentikkan dengan paham radikal dan fundamentalis. Imej buruk selalu lekat dengan para aktivis atau organisasi yang menyuarakan ajaran Islam Kaffah.

            Syaikh Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Al-Muhadhoroh fi Asy-Syariah Al islamiyah wa Fiqhuha wa Mashodiruha berkata : Syariat Islam adalah segala sesuatu dari Allah yang dibawa oleh Muhammad SAW, baik berupa urusan akidah guna membebaskan akal manusia dari perbudakan berhala dan khurafat dan yang berupa akhlak, guna membebaskan manusia dari sesatnya hawa nafsu dan fitnah syahwat dan berupa hal yang mengatur perbaikan masyarakat guna membebaskan manusia dari kezaliman, kekacauan dan kediktatoran. (Al-Muhadhoroh fi Asy-Syariah Al islamiyah wa Fiqhuha wa Mashodiruha, hal 6)

            Dari pernyataan di atas bisa disimpulkan bahwa syariat Islam kaffah itu mencakup kepada tiga pondasi pokok, yaitu Akidah, ibadah ruhiyah dan sistem perundang-undangan dan peradilan. Memahami sudut pandang pemberitaan miring tentang ajaran Islam sangat penting sebab tolak ukur kebenaran akan sesuatu tidaklah dilihat dari banyak/sedikitnya yang membicarakannya atau mengambilnya. Karena standar baik dan buruk hanyalah berasal dari Allah Subhallahu Wa Taala yang merujuk pada dalil-dalil qatiy yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.

            Untuk mengetahui ajaran Islam maka haruslah umat Islam menyadari betapa pentingnya mempelajari ilmu Islam agar kita tidak mudah tergiring opini-opini negatif terhadap Islam. Mendakwahkan bahwa Rahmatan lil Alamin —nya Islam tak hanya mencakup untuk umat Islam saja namun non muslim pun ikut merasakannya. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah yang ketika itu menjadi kepala negara di Madinah. Umat Muslim, Yahudi dan Nasrani hidup damai berdampingan tanpa ada intimidasi satu sama lain termasuk perkara akidah masing-masing. Tentunya dengan aturan satu yaitu syariat Islam mulia di bawah naungan Khilafah. Wallahu alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.