Sab. Apr 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Ketakwaan Diraih Bukan Hanya Melalui Media Islami, Tapi Sistem Islam Yang Kaffah

3 min read

Oleh : Yuchyil Firdausi

Ramadan sebentar lagi, hari puasa bagi seluruh umat islam akan segera tiba dalam hitungan hari. Tentu umat islam bersuka cita menyambut Ramadan. Sebab, Ramadan hanya ada 1 kali dalam satu tahun. Hari dimana umat islam wajib berpuasa satu bulan penuh, bulan dimana bertebaran ampunan dan pahala, bahkan ada satu malam yang selalu dikejar yaitu malam Lailatul Qadar. Sehingga wajar jika umat islam akan menyambut Ramadan dengan suka cita setiap tahunnya.

Berbagai aktivitas di masyarakat pun secara otomatis berubah suasananya. Masjid jadi lebih sering ramai, tilawah Al-Qur’an dimana-mana, berbagai acara tausiyah pun bertebaran. Tak terkecuali juga tayangan di televisi. Mendadak menjadi tontonan yang islami selama ramadan. Bahkan jarang televisi yang menayangkan tontonan selain islami kecuali beberapa saja.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menegaskan, selama bulan Ramadan 2021 siaran televisi diperketat. Tujuannya, meningkatkan kekhusyukan menjalankan ibadah puasa. Selama bulan Ramadan lembaga penyiaran diminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), hedonistik, mistik atau horor atau supranatural, praktik hipnotis atau sejenisnya. Selain itu, lembaga penyiaran dilarang mengeksploitasi konflik dan atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan. Hal itu termuat dalam salah satu panduan lembaga penyiaran dalam bersiaran pada saat Ramadhan 2021. Panduan itu termaktub dalam Surat Edaran Nomor 2 tahun 2021 tentang Pelaksanaan Siaran Pada Bulan Ramadan (pikiran-rakyat.com, 24/03/2021). Aturan lain yang tertera juga adalah pelarangan untuk menampilkan pengisi acara yang berpotensi menimbulkan mudarat atau keburukan bagi khalayak kecuali ditampilkan sebagai orang yang menemukan kebaikan hidup, insaf atau tobat (tirto.id, 20/03/2021).

Sejatinya, kaum muslim tidak hanya membutuhkan tayangan yang mendukung tercapainya tujuan puasa yaitu takwa, tapi juga sistem yang benar-benar mewujudkan takwa tersebut. Sebab tayangan-tayangan semacam itu hanya berlaku saat bulan Ramadan saja, sedangkan setelah Ramadan tayangan-tayangan yang hedonis, LGBT, mistik, horor, infotainment, acara gosip, dan lain sebagainya akan tayang kembali. Bahkan penayangannya selama 11 bulan kedepan sebelum Ramadan lagi. Bayangkan saja, apa jadinya jika tontonan kemaksiatan terus berjalan selama berbulan-bulan di luar Ramadan? Ini menandakan bahwa tayangan media juga mengemban sekulerisme.

Hal ini semakin menunjukkan bahwa tayangan media sekuler yaitu pemisahan agama dengan dunia justru akan semakin mengokohkan sekulerisme. Seolah-olah takwa dan taat hanya dilakukan saat bulan Ramadan. Di luar bulan Ramadan seolah kemaksiatan wajar dan boleh saja terjadi. Padahal tujuan berpuasa di bulan Ramadan adalah meraih ketakwaan yang tidak hanya takwa di bulan Ramadan tapi juga di bulan-bulan berikutnya, sepanjang waktu. Jika memang ingin meningkatkan kekhusyukan, maka tayangan yang islami tersebut tak hanya ditayangkan saat momen Ramadan saja tapi juga sepanjang waktu.

Inilah gambaran kehidupan di sistem sekulerisme, yang hanya mendukung kekhusyukan pada momen tertentu saja. Sangat berbeda dengan kehidupan di bawah naungan sistem Islam. Dalam Islam, ketakwaan umat menjadi perhatian utama. Sebab ketakwaan itulah yang akan mengantarkan umat untuk taat pada aturan-aturan yang diterapkan di masyarakat. Pemimpin dalam islam berperan menjadi pengurus urusan umat atau rakyat. Maka sudah seharusnya para pemimpin mengurus umat dengan aturan yang sempurna. Aturan sempurna tersebut tak lain hanyalah dari Sang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT.

Aturan dari Allah SWT sudah pasti adalah yang terbaik bagi manusia, sebab Allah adalah Sang Pencipta sekaligus Sang Pengatur kehidupan. Begitupula dalam pengaturan urusan berpuasa di bulan Ramadan. Ketakwaan umat harus diraih setelah menjalankan puasa Ramadan, sebab itulah tujuan berpuasa di bulan Ramadan. Maka, untuk meraih takwa tersebut tak cukup hanya dengan memberikan tayangan-tayangan islami saja, namun juga harus didukung oleh sistem yang berlaku di masyarakat. Aturan yang diterapkan juga harus mendukung untuk takwa sepanjang waktu. Aturan yang diambil harus sesuai dengan perintah dan larangan ALLAH SWT. Mulai dari aturan pergaulan, aturan sosial, aturan ekonomi, aturan aturan berpolitik, dan juga aturan bernegara. Jika semua aturan ini menggunakan aturan yang telah ditetapkan ALLAH SWT, maka bukan hanya ketakwaan individu saja yang diraih, tapi juga ketakwaan seluruh umat dan lapisan masyarakat. Bahkan pemimpinnya pun juga akan meraih takwa.

Maka sudah seharusnya umat memperjuangkan sistem Islam kembali sebagaimana Rasulullah mencontohkan dahulu. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.