Sab. Apr 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Ledakan Makassar, Labelisasi Buruk Agama Kembali Melebar

3 min read

Oleh : Endang Patmiasih, S. Pd

Aksi pengeboman gereja kembali terjadi lagi. Kali ini terjadi di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu 28 Maret 2021 sekitar pukul 10.30 WITA. Aksi yang terjadi di depan halaman Gereja Katedral Makassar tersebut, apapun alasannya adalah tindakan terkutuk yang bertentangan dengan agama apapun, terutama Agama Islam.

Aksi ini menewaskan dua orang yang diduga pelaku dan melukai sedikitnya 14 orang. Tidak perlu menunggu menit untuk memunculkan praduga terkait dengan ledakan tersebut. Ramai-ramai beberapa kalangan mengutuk perbuatan tersebut, baik di media cetak ataupun elektronik. Hingga kemudian ada dugaan pelaku adalah salah satu kelompok Jamaah Ansharut Daulah. Mengapa tindakan terorisme selalu dikaitkan dengan agama dan ummat Islam? Malam harinya, Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo telah berhasil mengungkap identitas pelaku peledakan tersebut, yaitu sepasang suami istri yang baru menikah sekitar 7 bulan. Belum genap sehari, identitas pelaku dan jaringannya berhasil diungkap dengan sejumlah bukti, hal ini berbanding terbalik dengan menguapnya beberapa kasus yang belum terungkap, salah satunya seperti kasus koruptor Harun Masiku yang masih belum terselesaikan.

Ledakan Makassar, Pendiskreditan Islam
Ramainya berita yang mengaitkan ledakan makassar dengan agama Islam sangat disayangkan. Karena Islam sendiri mengutuk keras dan mengharamkan membunuh jiwa yang tidak bersalah. Cendekiawan Muslim, Muhammad Ismail Yusanto mengatakan, sangat mungkin peristiwa ledakan Makassar ini dilakukan pihak tertentu untuk mendiskreditkan Islam dan perjuangannya. Peristiwa ini dijadikan dalih untuk melakukan tindakan represif terhadap para aktivis dakwah yang dikaitkan dengan pemboman tersebut (mediaumat.news.30/3/2021). Padahal telah jelas dalam ajaran Islam termasuk dosa besar ketika membunuh dirinya sendiri dan melukai orang lain. Tindakan tersebut pastilah dilakukan oleh orang yang tidak faham tentang Islam, sehingga tidak boleh mengaitkan tindakan tersebut dengan dakwah Islam.

PP Muhammadyah menghimbau untuk tidak mengaitkan tindakan peledakan Gereja Katedral tersebut dengan agama dan golongan ummat beragama tertentu. Bisa jadi aksi bom Makassar ini menjadi adu domba terhadap rakyat Indonesia.

Radikalisme Terorisme: Propaganda Menyerang Islam
Tragedi peledakan gedung kembar WTC pada 11 September 2001 silam berhasil menciptakan propaganda bahwa teroris adalah muslim dan menghembuskan islamophobia ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia, meski peristiwa tersebut hingga kini masih kontroversi. Setelah peledakan WTC, serangkaian aksi bunuh diri terjadi di beberapa belahan dunia. Pada tahun 2002, bom Bali terjadi di Indonesia, kemudian disusul dengan bom-bom lainnya dan yang terakhir adalah peledakan Gereja Katedral di Makassar ini. Ironisnya, seolah-olah beberapa pihak kompak berasumsi bahwa semua pelaku aksi terorosme meninggalkan bukti yang menunjukkan dirinya adalah muslim yang terlibat dengan jaringan terorisme.

Pemahaman yang dangkal terhadap ayat-ayat Al Qur’an telah melahirkan tuduhan keji terhadap firman Allah SWT mengenai beberapa ajaran Islam seperti jihad dan khilafah. Untuk mendukung pemikiran barat yang sekuler, yakni menjauhkan nilai agama dari kehidupan, diserukanlah Islam moderat, yang menyesuaikan dengan pemikiran-pemikiran barat yang berasaskan sekuler. Hingga penyatuan agama dengan politik dianggap radikal yang berbahaya karena bisa menciptakan pemberontakan negara. Sungguh hal itu merupakan tuduhan yang tidak mendasar karena Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang akan memberikan keberkahan jika diterapkan secara sempurna.

Muslim, Ummat Terbaik
Hari ini, agama Islam sedang diolok-olok, ajarannya dihinakan, ulamanya dikriminalisasi, ormasnya banyak yang dibubarkan, dan ummatnya dilabeli teroris. Padahal ummat Islam telah Allah sematkan dengan predikat sebagai ummat terbaik yang akan mampu menyelesaikan seluruh permasalahan manusia. “Kamu (Ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh(berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali Imran:110).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.