Sel. Des 10th, 2019

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Mewaspadai Anti Radikalisme Sebagai Pemecah Belah Rakyat

2 min read

Oleh: Amma Faiq

Isu radikalisme kembali diwacanakan sebagai isu penting yang mengancam kesatuan negara. Bahkan radikalisme dianggap lebih berbahaya daripada terorisme dan separatisme yang terjadi di Papua. Buktinya, demi memberantas radikalisme, kementerian dan lembaga melakukan kesepakatan untuk tangani radikalisme khususnya dikalangan ASN (Aparatur Sipil Negara). Selain kemen PAN/RAB, terdapat 11 kementerian/lembaga yang ikut menandatangani SKB tersebut, yakni Kemenko Polhukam, Kemendagri, Kemendag, Kemenkominfo, Kemendikbud, Kemenkumham, BIN, BNPT, BIPP, BKN, KASN (www.cnnindonesia.com/12/11/2019).

Tak tanggung-tanggung, kemenkominfo juga meluncurkan portal aduan ASN untuk mengawasi ASN radikal (tempo.co/13/11/2019). Maraknya upaya pemerintah untuk memberantas radikalisme melalui isu-isu yang dibangun di tengah-tengah masyarakat serta situs aduan sejatinya telah membuat warga negara memiliki saling curiga diantara sesamanya. Atas nama anti radikalisme, warga negara dianggap sah untuk memata-matai warga negara lain. Sehingga akan terjadi ketidakharmonisan di kalangan masyarakat.

Selain itu, SKB 12 kementerian yang dianggap sebagai payung legitimasi anti radikalisme sejatinya juga memiliki dominasi kepentingan bermuatan politis untuk melanggengkan kekuasaan. Sebab, para radikal bagi mereka adalah warga negara yang ingin mengganti sistem negara dan ingin membubarkan sistem pemerintahan yang saat ini berdiri. Sehingga, radikalisme jelas akan mengancam posisi para pejabat negara saat ini.

Padahal, dalam Islam memata-matai sesama warga negara merupakan hal yang harus dihindari. Bahkan curiga terhadap orang mukmin merupakan sebuah dosa besar. Dalam al-Quran surat Al Hujurat ayat 12, Allah SWT berfirman yang artinya, ” Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah kamu melakukan tajassus (mencari-cari keburukan orang)”.

Islam memang menolak segala bentuk kekerasan fisik dan paham radikalisme yang membahayakan masyarakat. Namun Islam memberikan hak kepada warga negara untuk melakukan muhasabah atau upaya mengkoreksi pemerintah jika pemerintah melakukan kezaliman terhadap rakyat. Islam juga mewajibkan dakwah atau amar ma’ruf nahi mungkar bagi setiap muslim. Bahkan, dakwah yang paling mulia dihadapan Allah SWT adalah mengkoreksi pemimpin yang tidak sesuai dengan syariat Allah. Dalam hadits riwayat Tabrani dan Al Hakim, Rasulullah saw bersabda bahwa jihad yang paling mulia adalah berkata yang benar di hadapan imam yang zalim. Wallahu a’lam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.