Sen. Mei 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Mustahil Menghapus Penistaan Agama Dalam Demokrasi

3 min read

Oleh : Yuchyil Firdausi

Penghinaan dan penistaan terhadap agama islam terulang kembali. Jozeph Paul Zhang mengaku sebagai nabi ke-26 membuat sayembara bagi siapa pun yang bisa melaporkannya melakukan penistaan agama dan aksinya itu menjadi viral setelah rekaman videonya diunggah melalui Youtube (inews.id/17/04/2021). Dalam videonya, Jozeph Paul Zhang menghina Nabi Muhammad serta menghina Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam unggahan yang di beri judul ‘Puasa Lalim Islam’ tersebut Josep juga menghina Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan menyebut kalau Allah sedang dikunci di Ka’bah hingga mengatakan bahwa umat Islam dibodoh-bodohi oleh ulamanya. Lebih parah lagi, dia menghina Allah dengan kata-kata kasar (fokussatu.com/18/04/2021). Dan atas tindakannya tersebut, umat islam menuntut polisi untuk segera menangkap Jozeph Paul Zhang dan dihukum seberat-beratnya.

Tentu saja umat islam marah, geram dan tidak terima jika agama islam, Allah dan Nabi Muhammad dihina dengan penghinaan keji semacam itu. Caci maki serta kata-kata kasar sangat tak pantas dilontarkan kepada Allah SWT. Maka wajar apabila umat islam berbondong-bondong menuntut kasusnya segera diusut, pelakunya segera ditangkap dan diberi hukuman seberat-beratnya. Namun, sayangnya kejadian penodaan agama semacam ini nyatanya terus berulang, sekalipun pelakunya sudah ditangkap dan dihukum.

Aksi penghinaan Islam sering terjadi, baik di dalam maupun di luar negeri. Mulai dari pembakaran Al-Quran, penghinaan terhadap Rasulullah yang dibuat karikatur, pelecehan terhadap syariat Islam, hingga kasus yang terjadi di tahun 2016 silam yaitu penghinaan terhadap Al-Maidah ayat 51. Bahkan setiap tahun, kasus penistaan agama bukannya semakin berkurang tapi malah bertambah dan lebih berani serta frontal melakukan penghinaan.

Melihat fenomena di atas maka mustahil menghapus penistaan agama dalam alam demokrasi. Dalam demokrasi yang meniadakan keimanan telah menjadikan kebebasan sebagai asas berperilakunya. Atas nama kebebasan berekspresi dan berpendapat para penghina Islam dengan mudah bertebaran dengan bebas tanpa pernah mendapatkan hukuman yang berarti. Hukuman yang diberikan pun tidak membuat jera, sanksi tegas juga tak diterapkan. Lantas bagaimana para penista agama itu bisa kapok? Jika hukuman dan sanksi yang diberikan saja tidak membuat mereka jera. Dengan dalih negara demokrasi penuh kebebasan, hidup di alam sekuler yang memisahkan aturan agama dengan kehidupan, mereka bahkan tidak takut menghina islam di negeri mayoritas islam sekalipun dilaporkan. Bahkan malah berani menantang untuk dilaporkan.

Hal ini jauh berbeda jika islam dijadikan aturan dalam kehidupan. Bukan peniadaan iman dan kebebasan yang menjadi landasan dalam mengatur kehidupan masyarakat dan negara, namun landasan keimanan kepada Allah SWT lah yang menjadi dasarnya. Dengan keimanan kepada Allah, maka amanah yang diemban oleh pemimpin akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, oleh karenanya pemimpin dalam islam tidak berani melakukan hal di luar aturan Allah.

Pemimpin yang menerapkan aturan dari Sang Pencipta Kehidupan tentu akan mengatur kehidupan masyarakat antar umat beragama secara harmonis. Sebab islam melarang memaksa umat lain untuk masuk agama islam, serta mengajarkan bertoleransi dan menghormati agama lain. Maka begitupula yang akan diterapkan kepada agama lain terhadap Islam, maka umat beragama lain yang hidup di bawah aturan Islam juga harus menghargai dan menghormati islam. Kehidupan yang harmonis di bawah aturan Islam ini tidak akan memicu penghinaan dan penistaan terhadap agama. Jika masih saja ada yang menghina agama islam, maka hukuman yang diberikan tak tanggung-tanggung yaitu hukuman mati. Hukuman ini diberikan semata-mata untuk melindungi umat dan menjaga kemuliaan islam serta membuat pelakunya jera. Tidak ada kompromi terhadap para pelaku penistaan agama. Sikap tegas dan berani harus dimiliki oleh pemimpin. Dengan demikian para calon pelaku penistaan agama akan berpikir 1000 kali jika hendak menghina agama. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.