Sen. Mei 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Penista Agama Makin Merajalela, Kapan Jera?

4 min read

Oleh : Endang Ummu Nabil

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh seseorang yang menyebut dirinya sebagai nabi ke 26, Namanya Joseph Paul Zhang, yang juga telah mengatakan dengan ngawurnya bahwa Nabi ke 25, yaitu Rasulullah SAW adalah sosok yang cabul dan sesat. Aksinya telah viral di media sosial setelah rekaman videonya diunggah melalui youtube. Video tersebut dibuat dalam forum diskusi zoom. Video berdurasi 3 jam 2 menit itu dia beri judul : Puasa Lalim Islam. Di video tersebut, dengan sombongnya dia mengatakan siapapun yang bisa melaporkannya atas penistaan agama akan dia berikan sejumlah uang. Dalam unggahannya tersebut, dia juga mengatakan bahwa Allah SWT sedang dikunci di dalam ka’bah dan ummat Islam dibodohi oleh ulamanya.

Tak lama setelah video tersebut beredar, Husin Shahab, selaku salah satu direktur di Komite Pemberantasan Mafia Hukum (KPMH), melaporkan pemilik akun Youtube tersebut, Joseph Paul Zhang. Laporan tersebut, dikatakan Husin sebagai langkah sigap pihaknya untuk memberikan efek jera agar tidak ada lagi pihak-pihak yang tidak bijak melakukan hal serupa. Ini juga sebagai bagian dari upaya untuk meredam gejolak masyarakat yang bisa jadi meletup karena ulahnya, imbuh Husin.

Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Anton Tabah, merasa heran dengan maraknya penistaan agama sekarang ini. Ia pun mengatakan bahwa kasus penistaan agama seperti ini seolah-olah dibiarkan, kadang aparatpun membiarkan.

Penistaan Agama Islam Terus Berulang
Penistaan terhadap agama Islam sudah banyak terjadi sebelumnya dengan berbagai macam bentuknya. Pada tahun 1989, Salman Rushdie, warga Inggris keturunan India, menulis sebuah novel berjudul ‘The Satanic Verses’ yang isinya menghina Nabi Muhammad dan Al Quran. Pada tahun 1997, Tatiana Soskin tertangkap di Hebron ketika mencoba menempelkan gambar Nabi Muhammad dalam bentuk babi sedang membaca Al Quran. Pada tahun 2002, peraih hadiah Pulitzer, Doug Marlette, menyebarkan gambar Nabi Muhammad yang sedang mengendarai truk yang membawa roket nuklir. Tahun 2004, Theo Van Gogh dan Ayaan Hirsi Ali, produser film asal Belanda, membuat film berjudul ‘Submission’. Film ini berdurasi 10 menit menggambarkan kekerasan terhadap wanita dalam masyarakat Islam. Dalam film tersebeut ditunjukkan empat wanita bugil yang mengenakan baju transparan. Pada tubuh para wanita tersebut ditulisi ayat-ayat Al Quran. Pada tahun 2005, Runar Sogaard asal Swedia menulis bahwa Nabi Muhammad mengidap kelainan seks(paedaphile) karena menikahi istrinya, Aisyah yang masih di bawah umur. Pada tahun yang sama, surat kabar Denmark, Jyllands-Posten menerbitkan kartun Nabi Muhammad yang melecehkan. Setahun kemudian, di Jerman, seorang aktivis bernama Manfred Van H mengirim paket ke masjid-masjid dan media berisi kertas toilet yang diberi tulisan ayat-ayat Al Quran. Tahun 2007, di Swedia, seorang seniman bernama Lars Vilks, dalam sebuah pameran seni menampilkan gambar bertema ‘The Dog in Art’ dengan menggambarkan Nabi Muhammad dikelilingi anjing. Dan yang paling mutakhir adalah ualah politisi Belanda, Geert Wilders dengan filmnya yang berjudul ‘Fitnah’. Film itu menggambarkan kekerasan dalam Islam yang dianggap ancaman bagi barat.

Tentu saja yang mengetahui dan merasa bahwa suatu pembicaraan, tulisan, gambar atau yang lainnya merupakan sebuah penistaan terhadap sebuah agama adalah pemeluk agama yang dinista tersebut. Di barat, hak agama untuk berkeberatan tidak mendapat tempat yang semestinya. Dari seluruh penistaan itu, tidak semua atau bahkan mungkin tidak ada yang sampai ke pengadilan dan diberi hukuman. Padahal banyak negara yang memiliki undang-undang anti penistaan.

Penistaan agama yang dilakukan oleh Joseph Paul Zhang ini terjadi di negri mayoritas muslim. Setiap kalimat yang ia lontarkan mencitraburukkan ummat dan ajaran Islam. Inilah babak baru kasus penistaan agama di Indonesia. Terlebih lagi, saat ini ummat Islam sedang menunaikan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Tak sedikitpun ia menghormati dan menghagai ibadah agama lain. Padahal penistaan agama termasuk dalam kejahatan yang serius.

Tindakan terhadap Penista Agama dalam Islam
Kasus demi kasus penistaan agama bak tumpukan berkas yang menggunung, entah kapan bisa dituntaskan. Akan selalu terjadi sepanjang masa. Ketika ummat Islam menuntut keadilan dari pemerintah atas tindakan penistaan agama, hal ini dianggap terlalu berlebihan. Berulang kali penistaan agama terjadi, namun tindakan tegas seolah-olah tidak ada, hanya lima tahun penjara tentu tidak akan membuat efek jera bagi pelakunya. Selain itu, norma yang mengatur penistaan agama juga masih terlalu longgar.

Islam sangat melindungi ummat dan ajaran Islam dari penistaan agama. Kehidupan antar sesama pemeluk agama dapat berjalan harmonis, saling menghormati dan menghargai ajaran masing-masing. Penguasa tidak akan lemah dalam menghadapi penista agama. Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash Shiddiq misalnya, ketika ada yang menghina Rasulullah saw, maka beliau memerintahkan untuk membunuh pelaku penghina Rasulullah. Pada masa Umar Bin Khattab pun demikian. Beliau pernah mengatakan, “Barangsiapa mencerca Allah atau mencaci salah satu Nabi, maka bunuhlah ia!”. Sultan Hamid II, Sultan ke-34 Khilafah Ustmaniyah pernah marah dengan tindakan pemerintah Prancis yang saat itu surat kabar Prancis memuat berita pertunjukan teater yang melibatkan Nabi Muhammad saw. Beliau mengatakan, “ Ini penghinaan terhadap Rasulullah. Mereka menghina Baginda kita, kehormatan seluruh alam semesta,…aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut”.

Beginilah seharusnya sikap pemimpin dalam Islam, tegas dalam menindak para penista agama demi menjaga kemuliaan agama, pantang berkompromi atau bersikap lemah di hadapan penista. Wallahu ‘alam Bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.