Sen. Mei 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Sejarah Islam Dikebiri, Nama Ulama Dieliminasi

3 min read

Oleh : Marsih (Pengajar SD Smart)

Ketua Umum NU CIRCLE (Masyarakat Profesional Santri) R. Gatot Prio Utomo menyampaikan protes keras atas tindakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang menghilangkan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Nama tokoh nasional pejuang kemerdekaan Hadratuss Syech Hasyim Asy’ari hilang dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I yang diterbitkan Kemendikbud.

Perlu diketahui bahwa Kamus Sejarah Indonesia terdiri atas dua jilid. Jilid I Nation Formation (1900-1950) dan Jilid II Nation Building (1951-1998). Pada sampul Jilid I terpampang foto Hadratus Syech Hasyim Asy’ari. Namun, secara alfabetis, pendiri NU itu justru tidak ditulis nama dan perannya dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebaliknya, menurut penelitian NU CIRCLE, nama Gubernur Belanda HJ Van Mook justru dimasukkan ke dalam kamus tersebut. Disebutkan bahwa Van Mook lahir di Semarang 30 Mei 1894 dan meninggal di L’llla de Sorga, Prancis 10 Mei 1965. Nama asing lainnya adalah seorang tentara dan intelijen Jepang Harada Kumaichi beserta seorang tokoh komunis pertama di Asia Henk Sneevliet.

Penghilangan nama tokoh ulama besar Indonesia dan ditampilkannya tokoh penjajah sekuler Barat menimbulkan tanya di benak masyarakat. Sebagaimana kita tahu, ulama memiliki peran penting sebagai figur yang menginspirasi generasi bangsa. Peran ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan tidak mendapatkan tempat dalam sejarah bangsa.

Para generasi muda tentu sedang mencari sosok – sosok yang patut dijadikan teladan, jangan sampai mereka malah sebaliknya lebih menghargai dan memuja orang – orang yang telah menumpahkan darah nenek moyang mereka diakibatkan keserakahan terhadap SDA bangsa dan negara. Padahal, generasi muda sangat membutuhkan sosok pahlawan yang memiliki spirit perjuangan dalam membela agama dan negara. Sebaliknya, sosok penjajah tidak perlu ditampilkan sebagai pahlawan karena keberadaan mereka tidak lepas sebagai agen pembawa ideologi penjajahan.

Kekhawatiran yang terbayang adalah, generasi muda akan menganggap sosok asing penjajah tersebut berjasa terhadap negeri ini di masa lalu. Narasi yang disuguhkan adalah keberadaan mereka di Indonesia bukanlah kesalahan, padahal nyata-nyata jelas menjajah negeri ini. Sungguh narasi pembodohan berpikir politis karena seolah-olah bangsa ini tumbuh besar berkat peran penjajah asing bukan peran ulama. Akibatnya, karakter yang terbentuk adalah karakter yang membebek pada kaum penjajah dan menjadi bangsa yang inferior.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah menjadi penghubung sebuah generasi dengan generasi berikutnya. Jika sejarah disabotase, maka generasi muda akan kehilangan tongkat estafet penting yang diperjuangkan oleh para pejuang kemerdekaan yaitu melakukan amar ma’ruf nahi munkar (penjajahan baik fisik maupun pemikiran). Generasi akan kehilangan bongkah jati diri yang benar tentang sejarah bangsanya.

Sejarah menjadi referensi bagi generasi sekarang untuk menata masa depan. Gambaran tokoh didalamnya harus benar karena dapat menginspirasi umat untuk menjadi sosok yang memiliki pandangan kehidupan yang lurus, seperti para ulama. Para ulama mengajarkan bahwa umat Islam akan maju jika mereka menggenggam erat agama mereka. Sebaliknya, umat Islam akan terpuruk jika meninggalkan agama mereka. Semboyan ini tentu tidak diajarkan oleh tokoh asing penjajah dari Barat.

Maka, seharusnya Kemendikbud lebih banyak menampilkan tokoh ulama yang peran penting mereka sudah tidak diragukan lagi. Dan menghapus tokoh-tokoh yang berideologi sekuler atau komunis yang melanggengkan imperialisme. Kalaupun, sejarah mereka mau ditulis, biarlah mereka menulis kepahlawanan mereka di negeri mereka sendiri, bukan di negeri kita. Sebab, yang bangsa ini butuhkan adalah sosok ulama negarawan sebagaimana Hasyim Asy’ari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.