Sen. Mei 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Solusi Islam Mengatasi Serangan Daging Ayam Impor Brazil

4 min read

Oleh: Izzah Nisriinah (Aktivis Muslimah)

Serbuan impor ayam dari Brazil mulai menghantui Indonesia setelah kekalahan dalam sengketa perdagangan di organisasi perdagangan dunia (WTO). Pemerintah melakukan berbagai macam cara untuk membendung upaya masuknya ayam dari negara latin tersebut. Pembenahan industri per-unggasan di tanah air dipandang sebagai salah satu cara menahan serbuan komoditas tersebut. Deputi bidang koordinasi pangan dan pertanian kementrian koordinator bidang perekonomian, Muzdalifah Mahmud mengatakan situasi perdagangan dunia semakin bebas, ia pun tidak menampik ancaman impor ayam Brazil menjadi salah satu perhatian utama pemerintah, “Kita terus rapat untuk mengatasi sengketa di WTO. Konsultasi dengan WTO untuk menjaga supaya ayam mereka yakni Brazil jangan masuk ke kita, “ Kata Musdalifah di Jakarta, kamis (22/4).

Ia mengatakan produksi ayam, baik broiler maupun layer atau petelur di dalam negeri mengalami surplus. Swasembada ayam juga sudah dicapai Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, jika pasokan impor masuk dia meyakini stabilitas industri perunggasan dalam negeri akan terganggu, ayam tidak pernah impor kalau sekarang kita buka, habis kita katanya. Musdalifah mengatakan efisiensi produksi harus terus dilakukan oleh industri dalam negeri. Pembaruan sistem-sistem peternakan seperti kandang tertutup perlu terus dilakukan untuk menghasilkan produksi yang lebih besar, namun dengan biaya produksi yang lebih hemat. Di sisi lain masyarakat perlu diedukasi untuk mau mengkonsumsi daging beku, hal itu perlu agar surplus ayam yang dicapai saat ini bisa seluruhnya terserap oleh pasar.
“Pemerintah tidak berencana impor daging ayam tapi ada ancaman daging Brazil karena kita kalah di WTO,” kata Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko kepada CNBC Indonesia, Jumat (23/4/21).

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra mengatakan banyak produsen ayam di dunia yang mengincar ke Indonesia namun hal itu bisa dicegah lantaran kekuatan produksi dalam negeri yang sangat mencukupi kebutuhan sebagaimana diketahui bahwa persoalan ini bermula dari gugatan negara Brazil ke Indonesia. Negara Samba tersebut membawa gugatan penolakan impor daging dari Brazil WTO pada tahun 2014, yang kemudian gugatan tersebut dilayangkan. Tahun 2017 WTO memenangkan Brazil atas gugatannya ke Indonesia dan hasil dari perseteruan itu memutuskan Indonesia bersalah dan harus menerima impor daging ayam dari Brazil. Lalu bagaimanakah nasib dari para peternak sendiri?

Jika para peternak lokal bersaing dengan daging ayam impor Brazil, maka bisa dipastikan peternak lokal akan mengalami kebangkrutan. Hal ini terjadi karena adanya persaingan harga yang tinggi antara daging ayam impor dengan daging ayam lokal. Daging ayam impor yang akan dijual ke Indonesia akan dijual dengan harga yang rendah, sedangkan peternak lokal, terkendala di modal yang terbatas ditambah dengan tingginya harga pakan ternak menyebabkan harga ayam lokal terkesan mahal. Sedangkan daging ayam impor dari Brazil telah memenangkan gugatannya atas Indonesia dan mendapat dukungan WTO serta Negara adidaya, siap menyerbu perdagangan ayam di Indonesia.

Saat ini perdagangan dunia dikuasai oleh para pemodal. Negeri adidaya dalam hal ini Amerika Serikat memiliki andil besar dalam perdagangan dengan kekuatannya ia mampu mengalahkan lawan sehingga negara lain akan bertekuk lutut di bawah kekuasaannya. Indonesia yang terlanjur masuk dalam jebakan tak bisa berkutik ketika badan perdagangan dunia memutuskan bersalah pasalnya badan perdagangan tersebut dipegang oleh Negara kapital.

Ya, negeri ini tidak mampu melindungi kesejahteraan bangsa sendiri, seakan takluk dengan keputusan sebuah badan dunia. Padahal jika kapasitas daging ayam masih cukup di dalam negeri. Pemerintah tidak perlu mengimpor lagi, namun kebijakan tersebut kalah ketika berhadapan dengan badan perdagangan dunia, yang notabene berkeinginan membuka pasar bebas seluas-luasnya. Mereka akan melancarkan kebijakan yang dinilai mengamankan hegemoninya. Untuk memutuskan keterpengaruhan kapital tersebut memerlukan keberanian yang luar biasa karena boikot perdagangan pasti dilancarkan oleh mereka.

Hanya negara bermabda Islam yang memiliki ketegasan memutuskan kerjasama perdagangan bebas ini. Negara bermabda ini akan mampu mengatur kebijakan dalam perdagangan sehingga negara lain tidak bermain-main dalam bekerja sama. Negara berideologi Islam akan senantiasa memberikan solusi dari masalah yang dihadapi. Dalam melaksanakan kebijakan, islam memiliki kebijakan dengan negara-negara tersebut. Dengan demikian negara akan memiliki ketegasan dalam mengimpor atau tidak bahan makanan, jika memang diperlukan akan dilaksanakan dengan ketentuan tertentu, jika tidak membutuhkan, negara akan tegas menolak. Kebijakan seperti ini hanya mampu dilaksanakan oleh negara yang memiliki ketegasan dan berdikari. Negara berideologi juga akan memosisikan sektor peternakan sebagai bagian dari tanggung jawab kepemimpinan seorang penguasa. Karena itu segala kebutuhan penunjang produksi ternak beserta hasil ternak dari hulu ke hilir akan diberi fasilitas dengan sebaik-baiknya.

Negara akan menunaikan mandatnya selaku khadimul ummah ( pelayan umat) dengan melaksanakan sabda Rasulullah SAW.

“ Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya.” ( HR Bukhori )

Sebagai seorang pemimpin, maka negara akan memastikan terpenuhinya semua kebutuhan pangan warga negaranya tanpa mematikan produksi dalam negeri. Negara akan mendahulukan produk dalam negeri untuk memenuhi semua kebutuhan pangan dalam negeri. Negara akan mengupayakan tersedianya bibit ternak terbaik, melakukan riset terbaik untuk mendapatkan hasil yang maksimal, menyediakan modal yang layak bagi peternak yang dananya bisa diambil dari baitul maal ( kas Negara), menyediakan pakan ternak terbaik dengan harga beli yang terjangkau, mekanisme kerja peternakan terbaik, jaminan perlindungan perdagangan bagi produsen terhadap tengkulak dan kartel maupun beragam kecurangan lainnya. Jika hal – hal di atas mampu dilaksanakan dengan baik, maka harga ayam lokal akan mampu ditekan sedemikian rupa, sehingga ayam lokal yang akan membanjiri penjualan ayam di Indonesia, bukan ayam impor dari Brazil ataupun negara yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.