Sab. Apr 17th, 2021

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Stop Labeling Teroris Pada Islam

2 min read

Oleh : Handiyanto

Akhir-akhir ini publik dihebohkan aksi teror di berbagai daerah. Mulai peristiwa bom bunuh diri di gereja Makassar dan penembakan di Mabes Polri yang gencar diberitakan di media-media nasional. Narasi yang berkembang, pelakunya adalah orang Islam.

Istilah terorisme selalu dilekatkan dengan orang Islam. Sebaliknya, jika ada aktivitas teror serupa dan pelakunya bukan beragama Islam, hanya disebut kriminalitas. Artinya, ada dikotomi pelaku kekerasan dengan labeling terorisme untuk pelaku muslim dan kriminalitas untuk pelaku non muslim. Hal ini menimbulkan tanya di benak masyarakat, narasi apa yang hendak dibangun di pikiran umat?

Masih segar dalam ingatan kejadian teror penembakan di Masjid New Zealand saat umat Islam melaksanakan sholat Jumat, pelakunya tidak disebut teroris. Kejadian serupa ketika terjadi pembakaran Masjid di Papua, pelakunya juga tidak disebut teroris. Benang merahnya adalah karena pelakunya tidak beragama Islam. Perlakuan terhadap pelaku juga berbeda. Jika pelaku yang disebut teroris biasanya langsung tembak di tempat. Sedangkan, yang tidak dilabel teroris, masih diberi ruang dan kesempatan bahkan sempat diundang ke istana negara. Dikotomi ini membuat standar labeling terorisme sangat ambigu dan terkesan untuk kepentingan tertentu.

Masyarakat tidak perlu mengikuti narasi labeling yang membingungkan tersebut. Cukup memahami kembali bahwa dalam ajaran Islam tidak memperbolehkan tindakan teror. Haram hukumnya membunuh orang tak bersalah dan membuat ketakutan di tengah masyarakat. Umat Islam tidak setuju dengan aksi teror apapun. Atas kejadian tersebut, umat Islam menjadi korban stigma negatif dan seolah menjadi pihak tertuduh. Stigma negatif sangat merugikan, bahkan mengarah pada ajaran Islam seperti cadar, sunah berjenggot, berbusana syar’i karena kecurigaan sebagai pelaku teror. Narasi keji ini sangat berbahaya karena kaum muslim menjadi phobia dengan agamanya sendiri. Alih-alih mau belajar agama, justru mencurigai saudaranya sendiri dan lebih memilih berkawan dengan penyeru pemikiran asing.

Maka, sikap masyarakat adalah tidak ter-aruskan dengan narasi buruk tentang Islam. Sebab, keyakinan bahwa Islam adalah ajaran yang membawa rahmat bagi seluruh manusia bukan ajaran teror sebagaimana yang didakwakan. Islam tidak mengajarkan tindakan teror, bahkan Islam pun tidak memaksakan ajarannya pada pemeluk agama lain karena dalam Islam ‘untukmu agamamu dan untuku agamaku’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.