Sab. Sep 19th, 2020

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Tunjangan Guru Dipotong Untuk Covid, Kebijakan Kapitalistik Buah Sistem Sekuler

3 min read

Oleh : Khadijah Annajm

Sejak covid melanda dunia hampir semua sektor kehidupan terkena dampaknya. Namun sangat disayangkan justru pemerintah membuat kebijakan yang semakin menyusahkan rakyat. Bantuan sosial digelontorkan namun pajak juga dinaikkan dan sekarang gaji guru juga ikut merasakan imbasnya.

Dalam lampiran Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen yakni tunjangan profesi guru PNS daerah dari yang semula Rp53,8 triliun menjadi Rp50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp698,3 triliun menjadi Rp454,2 triliun. pemotongan dilakukan terhadap tunjangan khusus guru PNS daerah di daerah khusus, dari semula Rp2,06 triliun menjadi Rp1,98 triliun. Selain pada tunjangan guru, pemotongan anggaran di sektor pendidikan juga dilakukan pemerintah terhadap dana Bantuan operasional Sekolah (BOS), bantuan operasional penyelenggaraan PAUD, bantuan operasional pendidikan kesetaraan, serta bantuan operasional museum dan taman budaya.
Padahal dari sisi nominal gaji guru dimasa sekarang hanya berkisar 2-5 juta rupiah, tentu masih jauh dari kata sejahtera.

Apalagi jika nominal gaji guru sekarang kita bandingkan dengan gaji guru di masa khilafah tentu sangat jauh sekali. Sebagai contoh, gaji guru di masa Khalifah Umar bin Khattab 15 dinar yang kalau dirupiahkan sekitar 30 jutaan. Wajar jika akhirnya seorang guru pada masa islam bisa maksimal menjalankan fungsi dan profesinya.

Sehingga sangat disayangkan dalam sistem demokrasi aturan yang dibuat sangat jarang memihak rakyat padahal guru juga tentu turut merasakan dampak covid.

Dalam islam bencana alam memang sesuatu yang harus ditangani oleh negara. Negara sebagai periayah rakyat akan benar-benar menjalankan perannya dengan sebaik mungkin. Karena adanya kesadaran bahwa riayah rakyat itu akan dipertanggungjawabkan tidak hanya di dunia akan tetapi sampai ke akhirat.

Khalifah sebagai pemimpin tunggal kaum Muslim di seluruh dunia memiliki tanggung jawab yang begitu besar dalam mengurusi urusan umat. Rasulullah Saw. bersabda:
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).
Negara akan mengeluarkan dana dari baitulmal untuk menangani bencana. Salah satu pemasukan baitulmal adalah dari sektor kepemilikan umum seperti barang tambang, bahan galian, hasil hutan, dll . Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah saw bahwa kaum muslimin bersekutu atas air, api dan padang gembalaan. Karena itu harta dari sektor ini tetu jumlahnya sangat besar. Sedikit kemungkinan kas baitulmal dari sektor ini kosong. Akan tetapi jika memang sektor ini kosong, maka negara bisa mengambil langkah memobilisasi masyarakat untuk bersedekah. Sedekah adalah salah satu amal sholih yang pelakunya akan mendapatkan pahala disisi Allah. Jika kaum muslimin sudah bersedekah namun harta yang terkumpul belum mencukupi dalam menangani bencana negara akan menarik pajak dari orang-orang kaya kaya. Dan terakhir jika harta yang terkumpul juga belum mencukupi baru solusi terakhir adalah utang dengan syarat tidak bertentangan dengan syara. Karena negara tidak akan menerima satu dinarpun kecuali sesuai dengan hukum syara serta tidak akan membelanjakan satu dinarpun kecuali sesuai dengan hukum syara juga.

Disisi lain gaji para pegawai negeri yang bekerja dalam daulah akan tetap ditunaikan baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan bencana, baik harta baitulmal ada ataupun kosong . Karena hal ini termasuk pengeluaran wajib baitulmal.

Hal ini berbeda dengan sistem demokrasi kapitalis saat ini. Kekayaan alam yang hakikatnya milik umat justru diprivatisasi, diserahkan kepada swasta dan asing. Sehingga wajar negara selalu merasa kekurangan harta sehingga utang, pencabutan subsidi dan pajak dijadikan sebagai solusinya. Harta yang seharusnya milik umat justru tidak bisa dinikmati oleh umat. Kesejahteraan yang dijanjikan oleh penguasa hanya sebatas impian semata.

Sudah saatnya kaum muslimin menyadari pentingnya penerapan syariah dan penegakan Khilafah karena dengan Khilafah kaum muslimin akan mampu meraih kesejahteraan yang selama ini didambakan. Lebih dari itu kehidupan yang berkah hanya ada dalam naungan Khilafah. Allah berfirman. Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.TQS. Al-A’raf : 96.
Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.