Sel. Des 10th, 2019

Teras Berita

Terarah, Aktual, Cerdas

Tunjangan Harian Rakyat (THR) dalam Sistem Islam

2 min read


Oleh Ummu Ash Shofi

Sejahtera. Adalah sebuah kata yang selalu diinginkan setiap orang. Khususnya untuk kondisi saat ini. Kondisi dimana ekonomi semakin sulit. Harga sembako melambung tinggi sedangkan pendapatan tak selalu dapat dicari. Walhasil berbagai cara dilakukan agar asap tetap mengepul. Demi memenuhi sesuap nasi.

Miris memang. Negeri yang konon terkenal dengan gemah ripah loh jinawi kini menjadi negeri dengan kondisi ekonomi yang semakin sulit. Sumber daya alam kini tak lagi seutuhnya menjadi milik negeri. Harapan sejahterapun semakin melambung tinggi. Seakan sulit diraih. Hanya iman yang menjadi pegangan diri. Berharap diri tak mudah terprovokasi untuk mencari rizki yang tidak diberkahi.

Meraih kesejahteraan memang sulit diraih dijaman kapitalis saat ini. Sebab, rakyat harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan rakyatpun masih harus dibebani dengan pajak yang hampir meliputi segala aspek kehidupan. Semua itu merupakan hal yang lumrah ketika suatu negara menerapkan sistem ekonomi kapitalis dimana kekuasaan dan pemegang kebijakan berada dibalik tangan para pemilik modal. Lihat saja bagaimana sistem ini mengelola sumber daya alam milik negara. Sumber daya alam yang notabene merupakan kepemilikan umum (rakyat) harus rela dikelola bahkan diserahkan kepada asing. Negara hanya mendapatkan sedikit royalti yang tak seimbang dengan pemberian SDA yang ada. Lihat pula bagaimana peluang kerja justru lebih banyak dan lebih mudah diberikan kepada para pekerja asing. Sedangkan di negeri sendiri, banyak anak bangsa yang sulit mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Semua itu hanyalah gambaran kecil tentang penerapan sistem ekonomi kapitalis saat ini.

Hal kebalikannya justru ada dalam sistem ekonomi Islam. Islam sebagai agama ritual dan politik memiliki konsep ekonomi yang tak diragukan dunia kebenarannya. Islam memandang bahwa negara wajib memenuhi kebutuhan dasar rakyat khususnya dalam 6 hal yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Negara juga wajib mengelola sumber daya alam untuk dimanfaatkan demi kepentingan rakyat. Keberhasilan sistem ekonomi Islam dapat dilihat dari banyaknya ulasan dan sejarah yang terjadi ketika Islam diterapkan secara kaffah (total) sejak Rasulullah saw mendirikan Daulah Islam di Madinah. Masa kejayaan ekonomi Islam juga berlangsung saat kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dan dilanjutkan dengan Khilafah Islamiyah hingga abad 20 masehi.

Pada masa Kholifah Umar bin Khathab, kaum muslimin menikmati kemakmuran dan kesejahteraan yang merata ke segenap penjuru. Sebab, tidak ditemukan seorang miskin oleh staf pemungut zakat Muadz bin Jabal di wilayah Yaman. Begitupun dengan masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Meskipun beliau hanya memerintah selama kurang lebih 3 tahun (818-820 M) namun kesejahteraan telah dapat dirasakan diseluruh penjuru wilayah Khilafah Islam yang meliputi Afrika, Irak dan Basrah. Hingga zakat yang terkumpul digunakan untuk membeli budak lalu memerdekakannya. Sebab sudah tak ada warga miskin yang berhak menerima zakat (Al-Qaradhawi, 1995).

Dua kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari kisah keberhasilan ekonomi Islam dalam mengentaskan kemiskinan. Namun, sistem ekonomi Islam juga harus diterapkan bersamaan dengan sistem lain agar tidak terjadi tumpng tindih didalam penerapannya. Keimanan dan ketakwaan merupakan modal utama bagi seorang muslim agar maus menerapkan segala syariat Islam. Sebab, tidak ada kemuliaan kecuali dengan Islam. Islam tidak akan nampak jika tidak diterapkan. Penerapan Islam tidak akan tegak tanpa negara yang mau menerapkan yaitu Daulah Islam.

2 thoughts on “Tunjangan Harian Rakyat (THR) dalam Sistem Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.